CINTA TAUHID

Kenali Tauhid Tinggalkan Syirik


Tinggalkan komentar

MUTIARA SALAF

Abu Hazim Salamah bin Dînâr Al-A’raj berkata:

كُلُّ نِعْمَةٍ لا تُقَرِّبُ مِنَ اللهِ فَهِيَ بَلِيَّةٌ

Setiap nikmat yang tidak mendekatkan kepada Allah, maka hal tersebut adalah ujian/petaka.”

[Diriwayatkan oleh Ibnu Abid Dunyâ dalam Asy-Syukr Lillâh]

‘Ammâr bin Yâsir radhiyallâhu ‘anhumâ berkata:

عَمَّارٌ ثَلاَثٌ مَنْ جَمَعَهُنَّ فَقَدْ جَمَعَ الإِيمَانَ الإِنْصَافُ مِنْ نَفْسِكَ ، وَبَذْلُ السَّلاَمِ لِلْعَالَمِ ، وَالإِنْفَاقُ مِنَ الإِقْتَارِ

“Ada tiga perkara, siapa yang mengumpulkannya, sungguh dia telah mengumpulkan keimanan: inshaf dari jiwamu, menebarkan salam kepada alam, dan berinfak bersama kefakiran.”

[Diriwayatkan oleh Al-Bukhâry secara Mu’allaq dan Al-Baihaqy] Baca lebih lanjut

Iklan


Tinggalkan komentar

APA ITU MANHAJ SALAF

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengapa Harus Bermanhaj Salaf ?

Orang-orang yang hidup pada zaman Nabi adalah generasi terbaik dari umat ini. Mereka telah mendapat pujian langsung dari Allah dan Rasul-Nya sebagai sebaik-baik manusia. Mereka adalah orang-orang yang paling paham agama dan paling baik amalannya sehingga kepada merekalah kita harus merujuk.

Manhaj Salaf, bila ditinjau dari sisi kalimat merupakan gabungan dari dua kata; manhaj dan salaf. Manhaj dalam bahasa Arab sama dengan minhaj, yang bermakna: Sebuah jalan yang terang lagi mudah. (Tafsir Ibnu Katsir 2/63, Al Mu’jamul Wasith 2/957).

Sedangkan salaf, menurut etimologi bahasa Arab bermakna: Siapa saja yang telah mendahuluimu dari nenek moyang dan karib kerabat, yang mereka itu di atasmu dalam hal usia dan keutamaan. (Lisanul Arab, karya Ibnu Mandhur 7/234). Dan dalam terminologi syariat bermakna: Para imam terdahulu yang hidup pada tiga abad pertama Islam, dari para shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in (murid-murid shahabat) dan tabi’ut tabi’in (murid-murid tabi’in). (Lihat Manhajul Imam As Syafi’i fii Itsbatil ‘Aqidah, karya Asy Syaikh Dr. Muhammad bin Abdul Wahhab Al ‘Aqil, 1/55).

Berdasarkan definisi di atas, maka manhaj salaf adalah: Suatu istilah untuk sebuah jalan yang terang lagi mudah, yang telah ditempuh oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, tabi’in dan tabi’ut tabi’in di dalam memahami dienul Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Seorang yang mengikuti manhaj salaf ini disebut dengan Salafy atau As Salafy, jamaknya Salafiyyun atau As Salafiyyun. Al Imam Adz Dzahabi berkata: “As Salafi adalah sebutan bagi siapa saja yang berada di atas manhaj salaf.” (Siyar A’lamin Nubala 6/21). Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

KEUTAMAAN TAUHID

Keutamaan Belajar Tauhid dan Bahaya

Meninggalkannya

Ketahuilah wahai saudaraku (karena Alloh), sesungguhnya perkara Tauhid merupakan point terpenting dalam kehidupan seorang muslim. Karena merupakan asas / pondasi seseorang yang beriman, barangsiapa yang tersesat darinya maka akan merugi di dunia dan akhirat.

Alloh Subhanahu wata’ala berfirman:

إنّ الله لايغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذالك لمن يشأ،ومن يشرك بالله فقدافتراى إثما عظيما

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisaa:48)

حُنَفَاءَ لِلَّهِ غَيْرَ مُشْرِكِينَ بِهِ ۚ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ

Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. Al-Hajj:31) Baca lebih lanjut


Tinggalkan komentar

MEWASPADAI FITNAH DUNIA

242

Perkara dunia merupakan perkara yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan anak adam, terlebih lagi dewasa ini. Manusia seakan berlomba-lomba untuk mengejar perkara dunia yang semu ini, seakan mereka akan hidup untuk selama-lamanya. Mereka akan mengumpulkan perkara dunia ini (harta) dengan sebanyak-banyaknya, alih-alih sebagai simpanan bagi anak cucu mereka, dan merekapun lupa untuk apa mereka diciptakan didunia ini. Tiada lain (wahai saudaraku); tidaklah Rabb kita menciptakan hambaNya kecuali untuk beribadah kepadaNya. Sehingga sudah semestinya kita mengetahui perkara tersebut, maka merugilah bagi mereka yang tidak mengetahui hakikat dari kehidupan dunia ini.

Adapun perkara tidak bisa dipisahkannya; antara perkara dunia dan anak adam (sebagai mahluk sosial) bukan berarti dengan serta-merta “lepas bebas tanpa batas” dalam memenuhi kebutuhan duniawinya.

Didalam agama yang Agung ini (yakni; Islam), Alloh (Subhanahu wata’ala) telah menyempurnakan semua aspek lini kehidupan didalamnya. baik dari perkara Aqidah sampai perkara muamalah, sebagaimana Firman Alloh (Subhanahu wata’ala) :

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

oleh karena itu hendaknya orang yang beriman mempelajari memahami perkara tersebut dan berusaha semaksimal mungkin mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Baca lebih lanjut